SHARE
tiga-dara-restorasi

Pernahkan kamu merasa kalau bioskop di Indonesia justru lebih banyak menayangkan film-film produksi Hollywood?

Sedih ya, sedikit sekali jumlah layar bioskop untuk film produksi lokal. Padahal kenyataannya Indonesia punya segudang film yang nggak kalah dengan film luar.

Beberapa bulan lalu kita disuguhkan dengan kembalinya Rangga dan Cinta setelah ratusan purnama, kini saatnya film klasik Indonesia yang mencuri perhatian. Yup, apa lagi kalau bukan Tiga Dara. Film yang pertama kali rilis pada 24 Agustus 1957 ini adalah karya dari seorang sutradara terkenal yaitu Usmar Ismail.

Film ini menceritakan tentang tiga orang perempuan kakak beradik, yang dibintangi oleh Chitra Dewi (Nunung), Mieke Wijaya (Nana), dan Indriati Iskak (Neni), yang terjerat kisah cinta segitiga. Walaupun merupakan film lama, tapi jalan ceritanya masih bisa diterima oleh anak muda masa kini. Para aktor berhasil berperan dengan apik, luwes, dan terkesan natural. Tiga Dara juga diselipi humor yang bisa membuat kita terhibur.

Film Tiga Dara karya Usmar Ismail (24 Agustus 1957) Doc.istimewa
Film Tiga Dara karya Usmar Ismail (24 Agustus 1957) Doc.istimewa

Lalu muncul banyak pertanyaan, gimana ya caranya film yang sudah puluhan tahun lalu itu kembali ditayangkan? Karena tidak mungkin masih memiliki kualitas gambar yang bagus.

Nah, usut punya usut, ternyata inisiatif awal penyelamatan film ini justru datang dari pemerintah Belanda pada tahun 2011. Tapi, gagasan yang dieksekusi EYE Museum di Amsterdam itu tertunda karena krisis ekonomi yang melanda Eropa saat itu. Materi asli seluloid film pun dikirimkan kembali ke Indonesia.

SA Films lah yang akhirnya membawa film yang diakui sebagai karya klasik itu ke Laboratorium L’immagine Ritrovata yang berbasis di Bologna, Italia. Bukan pekerjaan mudah untuk merestorasi sebuah film yang sudah puluhan tahun tersimpan.

Tidak heran jika pengerjaan restorasi memakan waktu sekitar 8 bulan, terhitung sejak awal 2015 hingga 8 Oktober 2015, mulai dari menyatukan adegan-adegan yang hilang menggunakan sisa-sisa salinan dari film. Belum lagi penghilangan debu dan jamur.

Tidak berhenti sampai disitu, proses restorasi dilanjutkan dengan restorasi 150 ribu frame secara digital di Indonesia, oleh PT Render Digital Indonesia selama kurang lebih 6 bulan. Hebatnya, film legendaris ini pun berhasil direstorasi dan menjadi film Indonesia pertama yang direstorasi dalam format 4K. Keren ya!

Penayangan kembali film bergenre komedi musikal ini mendapat respon positif. Ceritanya yang lengkap, didukung drama, tari, dan pesan moral. Hal tersebut terbukti dengan cukup seringnya tagar #TigaDara4K muncul di Instagram dan Twitter. Film ini ditayangkan di Indonesia pada 11 Agustus 2016, dengan perilisan DVD dan Blu-ray pada tahun berikutnya. Yuk, terus dukung film di negeri sendiri!

LEAVE A REPLY