SHARE
doc. Mahasiswa Sastra Sunda Unpad

Perempuan dengan paras cantik serta memiliki bentuk tubuh sintal, ideal dan menarik adalah image yang melekat pada diri penari Jaipong.

Bagi para perempuan Sunda dan masyarakat di lingkungan Jawa Barat tentunya sudah tidak asing dengan jenis kesenian tari yang satu ini. Sebuah kesenian tari atraktif serta dinamis yang dominan dimainkan oleh kaum perempuan ini, memang lebih sering dikaitkan dengan penggambaran karakter perempuan Sunda masa kini.

Jika melihat sejarah, sejak tahun 1980 seni tari Jaipong mulai dikembangkan oleh Gugum Gumbira dari seni tari rakyat ‘ketuk tilu’ menjadi seni pertunjukkan atau media hiburan yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat. Artinya kesenian yang semula hanya dapat dinikmati oleh kalangan masyarakat kelas bawah pun, kini dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat yang ada. Itulah sebabnya seni tari Jaipongan seringkali dianggap sebagai seni pertunjukkan yang dapat melintasi strata sosial tertentu.

Tari Jaipong dan Perempuan Sunda masa kini, koleksi foto Mahasiswa Sastra Sunda Unpad
Tari Jaipong dan Perempuan Sunda masa kini, koleksi foto Mahasiswa Sastra Sunda Unpad

Sebagai seni yang banyak dipertunjukkan oleh sosok perempuan, Jaipong pun dinyatakan sebagai bentuk penggambaran sosok perempuan Sunda masa kini. Hal ini terlihat melalui gerakan yang dimilikinya. Setiap gerakan tersebut menunjukkan sosok perempuan Sunda yang penuh semangat, lincah, dan kuat. Tidak hanya itu, sebagai tarian yang penuh kelembutan, Jaipong juga menunjukkan adanya gerakan ‘Jalingkak’ yang ungkapannya dinyatakan sebagai gambaran dari karakter perempuan Sunda gesit serta kekinian.

Karakter perempuan Sunda saat ini berbeda dengan karakter perempuan Sunda zaman dulu yang lebih dikenal dengan sifat anggun dan andalemi (Bahasa Sunda: orang yang bersifat baik dan lemah lembut). Perbedaan tersebut nampak melalui beberapa gerakan tari Jaipongan yang dapat dibaca sebagai bentuk gambaran karakter yang dimilikinya.

Dimulai dari gerakan ‘Cinges’ yaitu gerakan kepala serta badan yang menggambarkan karakter sosok perempuan gesit serta dapat menghadapi setiap tantangan kehidupan dengan penuh rasa antusias. Kegesitan itu terlihat melalui gerak kaki, seperti halnya ketika muncul gerakan ngerecek, depok, meloncat, sirig, mincid, sonteg dan lain sebagainya. Melalui gerakan gesit tersebut, karakter perempuan Sunda juga dapat dinyatakan ‘hampang birit’, artinya mudah untuk bergerak.

Tari Jaipong dan Perempuan Sunda masa kini, koleksi foto Mahasiswa Sastra Sunda Unpad
Tari Jaipong dan Perempuan Sunda masa kini, koleksi foto Mahasiswa Sastra Sunda Unpad

Kemudian ada lagi gerakan ‘Galeong’ badan serta kepala, umumnya gerakan ini disertai dengan lirikan mata serta senyuman genit yang menggambarkan karakter perempuan kenes (centil).

Gerakan tangan juga kaki yang terbuka dengan lebih lebar menggambarkan bahwa perempuan Sunda masa kini memiliki karakter yang jujur dan lebih kuat. Sedangkan untuk liukan tubuh yang lebih lentur, dari ujung kepala hingga kaki dinyatakan sebagai karakter perempuan yang lebih fleksibel atau tidak kaku, termasuk dalam menghadapi berbagai persoalan.

Selain penggambaran karakter melalui gerakan tubuh para penari Jaipong, musik yang mengiringi setiap gerakan tersebut pun dapat diartikan sebagai penggambaran karakter. Hal ini terlihat melalui tempo musik yang lambat, cepat atau pun sedang. Kecepatan tempo musik itu diartikan sebagai karakter dari perempuan Sunda masa kini yang tentunya tidak monoton, tetapi penuh dengan kejutan dan juga tidak membosankan. Sama halnya dengan karakter perempuan centil, serta kenes yang terlihat melalui riasan atau tampilannya.

Tari Jaipong dan Perempuan Sunda masa kini, koleksi foto Mahasiswa Sastra Sunda Unpad
Tari Jaipong dan Perempuan Sunda masa kini, koleksi foto Mahasiswa Sastra Sunda Unpad

Dari berbagai macam bentuk gerakan tubuh serta beberapa hal lainnya yang disajikan oleh para pemain Jaipong tadi, muncul lah pro dan kontra dari kalangan masyarakat, utamanya untuk gerakan yang disajikan oleh penari perempuan.

Alasannya tentu saja berkaitan dengan munculnya anggapan bahwa garakan tari tersebut telah mengekploitasi tubuh perempuan, khususnya pada gerakan pinggul perempuan yang dikenal sebagai wilayah privasi dan dapat mengundang gairah tidak diinginkan dari kaum laki-laki.

Namun siapa sangka? Pada akhirnya pro dan kontra inilah yang justru semakin mengangkat nama kesenian Tari Sunda Jaipong, hingga akhirnya ia tidak hanya dikenal diantara masyarakat suku sunda dan masyakarat dalam negeri saja, melainkan dikenal pula oleh masyarakat mancanegara.

 

LEAVE A REPLY